Paris bukan Ibu kota Perancis. Bukan pula nama orang. Tapi Paris di sini adalah Parangtritis, nama daerah asalku
. Jadi Kalau ada yang nanya asalku mana? *Paris, pasti ada yang kaget
. Lalu westprog? Sebutan lain Kulon Progo, Kabupaten yang masuk 10 besar pelayanan terbaik versi Metro TV.
Berawal dari rencana dadakan, namun juga terprogram *loh bajimana nih?. Sepeda sendirian pun menjadi alternatif. Ndak ada acara formal macam FUN BIKE, atau apalah. Aku kasih nama acara ini apa yaa? Hmm…oh iya “GANTENG ROAD SHOW”. Maksudnya? Itu acara si ganteng untuk para pembaca sapiganteng.com *halah hahahhaa.
Bermodal barang pinjaman. Tapi bukan pinjaman semua. Baju, celana, pakaian dalam, dll masih ada yang punya sendiri .
Berangkat sekitar setengah 3 sore. Foto start nggak ada, kamera teman lapar, karena chargenya rusak, jadi kamera nggak pernah diberi makan listrik, gak nyala
.
Suasana terasa panas, jalanan masih ramai dipenuhi para aktifis jalanan, maksudnya para pengguna jalan. Masih terasa pula suasana #17an, bendera menghiasi di kanan-kiri jalan. #MERDEKA!. Suasana ceria selalu melekat. Celana pendek kusut, baju merah merona, rambut acara-acarakan seolah sebagai modal berharga untuk menjadi atlet sepeda internasional *maksute opo iki?, Mana ada atlet sepeda internasional celananya kusut rambut acak-acakan *keplak diri sendiri*.
Perjalanan sekitar 3 km, Saya berhenti. Merasa iba dengan barang milik teman (kamera), karena kelaparan. Melihat sebuah Toko, aku pun mengoda toko itu, membujuknya untuk menukar duitku dengan sepasang baterai. Akhirnya aku berhasil mendapat baterai A3, kemudian saya keluar dari toko itu. Duduk di luar toko, memasang baterai di kamera. Tiba-tiba “Waduhh, baterainya nggak jodoh, kurang gede!, kalau masih kurang gede, tambah lemakku!” *loh. Masuklah saya dan beli yang cocok.
Melanjutkan perjalanan. Melewati pasar, mantan sekolah, hingga kebun warga.

Sepedo meter menunjukkan 300 km/ jam lebih cepat dari Moto GP
))

Pemandangan mantap di setiap perjalanan
Melewati beberapa tempat bersejarah. Dulu tempat ini sebagai tempat ayahku membanting tulang, untuk membiayai anaknya yang nakal ini *Gak pa2 nakal yang penting ganteng. Namun sekolah ini sekarang sudah nggak berdiri lagi, menurut keterangan dari ayahku sekolah ini diregroup (digabung) dengan sekolah lain.

Sekolahan dimana dulu ayahku bekerja, sekarang udah nggak dipakai
Suasana kesana tak banyak berubah, dari masjid sebelum menuju kesana masih tegak berdiri.

Masjid ini masih ada, waktu aku SD dulu pernah ikut ayahku ke tempat kerjanya.
O yaa, sebelum sampai ke sana sepeda yang aku pakai sempat jadi preman pencegat jalan. Wah..wah..

HEH!! Kalau mau lewat bayar, sini..sini..sini
))
Melanjutkan perjalanan. Melewati penjual sate. Nah ini pengalaman yang tak mengenakkan. Ceritain nggak yaa? ceritain ah. Jadi dulu aku waktu SMA jalan-jalan sama temanku
erfan. Waktu itu kita sama-sama lapar, kemudian mampir di warung sate ini. Nah di sana kita cerita ngakak-ngakak sambil makan. Makan pun akhirnya selesai. Setelah itu kita mau pulang. Tiba-tiba kejadian nggak mengenakkan terjadi. Tiba-tiba si erfan nyletup “aku nggak bawa duit”. Aku jawab,”Santai aja”. Ku keluarkan dompetku “hah!, aku juga, duitku nggak ku bawa..modyar ini”. Dengan malu-malu dan saling tunjuk, kita ngomong sama penjualnya. “Buk, kami nggak bawa duit, duitnya ketinggalan” ungkapku dengan malu-malu tapi tetap ganteng. Tapi untungnya ibuknya baik kita boleh ngutang, karena nggak enak erfan aku tinggal sana, aku ngambil duit pulang

Ini warung itu. Makanannya enak, tapi sayang aku nggak bawa duit
*Cerita belum selesai lanjut besok
*